Rabu, 17 Agustus 2011

ASKEP DERMATITIS


ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengertian
          Dermatitis kontak ( dermatitis venenata ) merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap unsure – unsur fisik, kimia atau biologi. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering bersifat ekzematosoa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah bahan yang iritatif atau alergenik. Dermatitis kontak adalah peradangan oleh kontak dengan suatu zat tertentu, ruamnya terbatas pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas.
B.     Etiologi
Zat – zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak melelui 2 cara yaitu :
  •   Iritasi ( dermatitis iritan )
  •   Reaksi alergi ( dermatitis kontak alergika )
·         Sabun detergen dan logam – logam tertentu bisa mengiritasi kulit setelah beberapa kali digunakan.
·         Penyebab dermatitis kontak alergika
Kosmetika : Cat kuku, penghapus cat kuku, deodorant, pelemban lotion sehabis bercukur, parfum, tabir surya.
·         Senyawa kimia ( dalam perhiasan ) : nikel
Tanaman : Racun IVY ( tanaman merambat ) racun pohon ek, sejenis rumput liar, primros.
·         Obat – obat yang terkandung dalam kritim kulit : antibiotic ( penisilin, sulfonagnid, neomisin ), autihistamin ( defenhidramin )
·         Zat kimia yang digunakan dalam pengelolaan pakaian.
C.     Manifestasi Klinik
Gejala dermatitis kontak mencakup keluhan :
  •     Gatal – gatal
  •      Rasa terbakar
  •      Lesi kulit ( vesikel )
  •       Edema yang diikuti oleh pengeluaran secret 
  •    Pembentukan krusta serta akhirnya mengering dan mengelupas kulit.
          Reaksi yang berulang – ulang dapat disertai penebalan kulit dan perubahan pigmentasi. Invasi sekunder oleh bakteri dapat terjadi pada kulit yang mengalami ekskoriasis karena digosok atau digaruk. Biasanya tidak terdapat gejala sistemik kecuali jika erupsinya tersebar luas.
D. Patofisiologi
Dermatitis Kontak Iritan
          Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein.
          Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu :
  •   Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang,
  •     Iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor  kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut.
Dermatitis Kontak Alergi
          Pada dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang menyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu :
1.      Fase Sensitisasi
          Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. Pada fase ini terjadi sensitisasi terhadap individu yang semula belum peka, oleh bahan kontaktan yang disebut alergen kontak atau pemeka. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jam kemudian hapten diproses dengan jalan pinositosis atau endositosis oleh sel LE (Langerhans Epidermal), untuk mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang berada di epidermis, menjadi komplek hapten protein. Protein ini terletak pada membran sel Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-DR (Human Leukocyte Antigen-DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell).
Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regional dan terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of Diferantiation 4+) dan molekul CD3. CD4+berfungsi sebagai pengenal komplek HLADR dari sel Langerhans, sedangkan molekul CD3 yang berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti), merupakan pengenal antigen yang lebih spesifik, misalnya untuk ion nikel saja atau ion kromium saja. Kedua reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. Pada saat ini telah terjadi pengenalan antigen (antigen recognition). Selanjutnya sel Langerhans dirangsang untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang sel T untuk mengeluarkan IL-2. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi sel T sehingga terbentuk primed me mory T cells, yang akan bersirkulasi ke seluruh tubuh meninggalkan limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut dengan alergen yang sama. Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari, dan belum terdapat ruam pada kulit. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko untuk mengalami dermatitis kontak alergik.
2.      Fase elisitasi
          Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama dan sel yang telah tersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis. Sel Langerhans akan mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il-2. Selanjutnya IL-2 akan merangsang INF (interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan merangsang keratinosit memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang langsung beraksi dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid akan mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin sehingga terjadi vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Akibatnya timbul berbagai macam kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang akan tampak sebagai dermatitis.
          Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu proses skuamasi, degradasi antigen oleh enzim dan sel, kerusakan sel Langerhans dan sel keratinosit serta pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat stimulasi INF gamma. PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah kontak sel T dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan memperlambat puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga histamin berefek merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan beberapa mekanisme lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesifik, dan akhirnya menekan atau meredakan peradangan.
1.      
Penyimpangan KDM

Bahan iritan
merusak lapisan tanduk


 

lisosom, mitokondria dan
komponen-komponen inti sel
mengalami kerusakan


 

rusaknya membran lipid keratinosit
pengaktifan fosfolipase


 

pembebasan asam arakidonik


 

Pembebasan histamin,
prostaglandin dan leukotrin.

Pruritus
Perubahan pola tidur
 
vasodilatasi dan
permeabilitas yang meningkat.


 

Timbul  eritema, edema dan vesikula


 


 Perubahan status kesehatan
Tidak mengenal sumber informasi
Kurang pengetahuan

 
Kerusakan integritas kulit







Merangsang pusat saraf
Ditrasmisikan ke korteks serebri melalui thalamus
Nyeri dan gatal

 

 

Penampakan kulit yang tidak baik
Koping tidak efektif











 

Perubahan citra tubuh












 








E.     Pencegahan
Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari berkontak dengan bahan yang telah disebutkan di atas. Strategi pencegahan meliputi:
v  Bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun. Bila dilakukan secepatnya, dapat menghilangkan banyak iritan dan alergen dari kulit.
v  Gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk menghindari kontak dengan bahan pembersih.
v  Bila sedang bekerja, gunakan pakaian pelindung atau sarung tangan untuk menghindari kontak dengan bahan alergen atau iritan.
F.      Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis gangguan integument yaitu :
ü  Biopsi kulit
Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil cintih jaringan dari kulit yang terdapat lesi.
Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.
ü  Uji kultur dan sensitivitas
Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada kulit.
Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut resisten pada obat – obat tertentu.
Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat pada lesi kulit.
ü  Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus
Pemeriksaan kulit perlu mempersiapkam pencahayaan khusus sesuai kasus. Factor pencahayaan memegang peranan penting.
ü  Uji temple
Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi.
Untuk mengetahui apakah lesi tersebut ada kaitannya dengan factor imunologis.
Untuk mengidentifikasi respon alergi
Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit, selanjutnya dilihat bagaimana reaksi local yang ditimbulkan.
Apabila ditemukan kelainan pada kulit, maka hasil nya positif.
ü  


ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
A.    Biodata
Biodara terdiri dari nama, jenis kelamin. Umur, agama, suku bangsa, pendidkan pendapatan pekerjaan,nomor akses, alamat dan lain- lain
          Dermatitis kontak dapat terjadi pada semua orang di semua umur sering terjadi pada remaja dan dewasa muda dapat terjadi pada pria dan wanita.
         Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). Dermatitis kontak iritan timbul pada 80% dari seluruh penderita dermatitis kontak sedangkan dermatitis kontak alergik kira-kira hanya 20%. Sedangkan insiden dermatitis kontak alergik terjadi pada 3-4% dari populasi penduduk. Usia tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi namun dermatitis kontak alergik lebih jarang dijumpai pada anak-anak. Lebih sering timbul pada usia dewasa tapi dapat mengenai segala usia. Prevalensi pada wanita dua kali lipat dari pada laki-laki.
     Bangsa kaukasian lebih sering terkena dari pada ras bangsa lain. Nampaknya banyak juga timbul pada bangsa Afrika-Amerika namun lebih sulit dideteksi. Jenis pekerjaan merupakan hal penting terhadap tingginya insiden dermatitis kontak.
B.     Riwayat  Kesehatan
a)      Riwayat Kesehatan Sekarang
1.      Keluhan Utama
         Pada kasus dermatitis kontak biasanya klien mengeluh kulitnya  terasa gatal serta nyeri.Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
2.      Riwayat keluhan utama
         Provoking Inciden, yang menjadi faktor presipitasi dari keluhan utama. Pada beberapa kasus dematitis kontak timbul Lesi kulit ( vesikel ),terasa panas pada kulit dan kulit akan berwarna merah, edema yang diikuti oleh pengeluaran secret. Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien
Ø  Provocative/palliative
·         Apa penyebab keluhan,
Apakah sebelumnya klien melakukan kontak dengan bahan-bahan tertentu yang menyebabkan kerusakan pada kulit
·         Apa yang membuat keluhan bertambah baik/ringan atau bertambah berat. Dengan menjauhi sumber dermatitis kontak maka keluhan yang dirasakan akan berkurang
Ø  Quality/quantity
·         Bagaimana keluhan dirasakan, dilihat, didengar
            Pada beberapa kasus dermatitis kontak biasanya klien akan merasakan gatal dan nyeri pada daerah yang terkena bahan tertentu yang dapat menyebabkan keluhan
·         Sejauh mana sakit dirasakan
           Rasa sakit yang dirasakan mulai dari tingkat ringan sampai berat. Tergantung dari lama kontak zat dengan kulit, konsentrasi zat serta tingkat sensitifitas kulit
Ø  Region/radiation
·         Dimana letak sakit
Tergantung dari daerah yang kontak dengan penyebab
·         Area penyebarannya
Area penyebarannya misalnya kaki, luka pada tungkai, jari manis, tempat cedera, dibalik perhiasan.
Ø  Severitty scale
·         Apakah mempengaruhi aktifitas
Terganggunya aktifitas tergantung dari letak,tingkat keparahan penyakit
·         Seberapa jauh skala ringan/berat
Tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya
Ø  Timing
·         Kapan mulai terjadi
·         Kapan sering terjadi
·         Apakah terjadinya mendadak atau perlahan-lahan
b)      Riwayat Kesehatan masa Lalu
          Seperti apakah klien pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya, apakah pernah menderita alergi serta tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya selain itu perlu juga dikaji kebiasaan klien.
c)      Riwayat Kesehatan keluarga 
        Apakah ada salah seorang anggota keluarganya yang mengalami penyakit yang sama, tapi tidak pernah ditanggulangi dengan tim medis. Dermatitis pada sanak saudara khususnya pada masa kanak-kanak dapat berarti penderita tersebut juga mudah menderita dermatitis atopik
C.     Pemeriksaan fisik
1.      Keadaan umum
Ringan, sedang, berat.
2.      Tingkat Kesadaran
§  Kompos mentis                        
§  Apatis                   
§  Samnolen, letergi/hypersomnia    
§  Delirium    
§  Stupor atau semi koma
§  Koma 
Tingkat Kesadaran dermatitis kontak biasanya tidak terganggu Dermatitis kontak termasuk tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.
3.      Tanda-tanda vital
·         Tekanan darah
·         Denyut nadi
·         Suhu tubuh
·         Pernafasan
4.      Berat Badan
5.      Tinggi Badan
6.      Kulit
Inspeksi
·         radang akut terutama priritus ( sebagai pengganti dolor).
·         kemerahan (rubor),
·         gangguan fungsi kulit (function laisa).
·         biasanya batas kelainan tidak tegas an terdapat lesi polimorfi yang dapat timbul secara serentak atau beturut-turut.
·         terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang berkelompok yang kemudian membesar.
·         Terdapat bula atau pustule,
·         ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering disebut ematiti sika.
·         terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses menjadi kronis tapak likenifikasi dan sebagai sekuele telihat
·         hiperpigmentai tau hipopigmentasi.
Palpasi
·         Nyeri tekan
·         edema atau pembengkakan
·         Kulit bersisik
7.      Keadaan Kepala
·         Inspeksi
tekstur rambut klien halus dan jarang, kulit kepala nampak kotor.
·         Palpasi
Periksa apakah ada pembengkakan/ benjolan nyeri tekan atau adanya massa. Bi
8.      Keadaan mata
·         Inspeksi
a.   Palpebrae    :           tidak edema,  tidak radang
b.   Sclera          :           Tidak ictertus
c.   Conjuctiva :           Tidak terjadi peradangan
d.  Pupil            :          Isokor
e.   Posisi mata                                       
Simetris/tidak                                : simertis
                     Gerakan bola mata                         : Normal
Penutupan kelopak mata               : Tidak mengalam    
                                                        gangguan
Keadaan visus                              : Normal
Penglihatan                                   : Normal (tidak kabur )
·         Palpasi
                    Tidak ada nyeri tekan
                    Tekanan Intra Okuler ( TIO )  tidak ada
A.    Keadaan hidung
·         inspeksi
-          simetris kiri dan kanan
-          Tidak ada pembengkakan dan sekresi
-          Tidak ada kemerahan  pada selaput lendir
·         Palpasi
-          Tidak ada nyeri tekan
-          Tidak ada benjolan/tumor
10.     Keadaan telinga
·         inspeksi
-          telinga bagian luar simetris
-          tidak ada serumen/cairan, nanah
11.  Mulut
Inspeksi
a.       Gigi
-          Keadaan gigi    :   bersih
-          Ada karang gigi/karies           
-          Tidak ada pemakaian gigi palsu      
b.      Gusi
Tidak ada merah radang pada gusi 
c.       Lidah
Lidah bersih
d.      Bibir
-          Tampak pucat
-          Kering pecah 
-          Mulut tidak berbau  
-          Kemampuan bicara normal
12.     Tenggorokan
a.       Warna mukosa           : Kemerahan
b.      Nyeri tekan    tidak ada
c.       Nyeri menelan tidak ada
13.     Leher
·         mInspeksi
a.       Kelenjar Thyroid  : Tidak membesar
b.      Tidak ada pembengkakan atau benjolan
c.       Tidak ada distensi vena jugularis
·         Palpasi
a.       Kelenjar Thyroid              : Tidak terabah
b.      Kaku kuduk/tidak            : -
c.       Kelenjar limfe                  : tidak membesar
d.      Tidak ada benjolan atau massa
e.       Mobilisasi leher normal
14.     Thorax dan pernafasan
@   Inspeksi
a.       Bentuk dada         : Pigion chest
b.      Pernafasan            :  Inspirasi/ekspirasi, Frekuensi pernafasan, irama pernafasan
c.       Pengembangan diwaktu bernafas  normal
d.      Dada simetris
e.       Tidak ada retraksi
f.       Tidak ada batuk
@  Palpasi
a.       Tidak ada nyeri tekan, massa, adanya vocal premitus
b.      Untuk mengetahui adanya massa
c.       Inadekuat ekspansi dada
@  Perkusi
sonor : Suara perkusi jaringan paru yang normal
@  Askultasi
a.       Mendengarkan suara pada dinding thoraks
b.      Suara nafas : 
* Vesikuler
c.       Suara tambahan :  -
d.      Suara Ucapan
Ø  Suara normal
15.     Jantung
@ Inspeksi : Ictus Cordis : Denyutan dinding toraks oleh karena kontraksi ventrikel kiri à ditemukan pada ICS 5 linea medio clavicularis kiri.
@ Palpasi  :
Normal
@ Perkusi
Jantung dalam keadaan normal
@ Auskultasi
Tidak ada murmur
16.     Pengkajian payudara dan ketiak
·         Inspeksi :
Ø  Payudara melingkar dan agak simetris dan ukuran sedang
Ø  Tidak terdapat udema, tidak terdapat kemerahan atau lesi serta vaskularisasi normal
Ø  Areola mamma agak kecoklatan
Ø  Tidak adanya penonjolan atau retraksi akibat adanya skar atau lesi.
Ø  Tidak ada keluaran, ulkus , pergerakan atau pembengkakan. Posisi kedua puting susu mempunyai arah yang sama.
Ø  ketiak dan klavikula tidak ada pembengkakan atau tanda kemerah-merahan.
·         Palpasi
Ø  Tidak adanya keluaran serta nyeri tekan.   
17.     Abdomen
·         Inspeksi   :
Ø  umbilikus tidak menonjol
Ø  Tidak ada pembendungan pembuluh darah vena
Ø  Tidak ada benjolan
Ø  warna kemerahan
·         Palpasi    :
Ø  Tidak ada rasa nyeri
Ø  Tidak ada benjolan/ massa
Ø  Tidak ada pembesaran pada organ hepar
·         Perkusi             : Tympani
·         Auskultasi        :  Peristaltik normal
18.  Genetalia dan Anus
Ø   Genetalia :
·     Inspeksi :
Ø  Tidak ada prolapsus uteri, benjolan kelenjar bartolini,
Ø  sekret vagina jernih
·         Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Ø   Anus  : Keadaan anus normal,  tidak ada haemoroid, fissura, fistula.
19.     Ekstremitas
Ekstremitas atas
a.       Motorik
-          Pergerakan kanan/kiri           :  lemah
-          Pergerakan abnormal            :  seimbang antara kanan dan 
                                        kiri.
-          Kekuatan otot kiri/kanan      :  kekuatan otot kanan dan kiri
                                              lemah
-          Koordinasi gerak      :  ada gangguan
b.      Refleks
-          Biceps kanan/kiri                  : Normal
-          Triceps kana/kiri                    : Normal
c.       Sensori
-          Nyeri                                     : +
-          Rangsang suhu                      : +
-          Rasa raba                              : +
Ekstremitas bawah
a.       Motorik
-          Gaya berjalan                        :   Normal
-          Kekuatan kanan/kiri              :   kekuatan kanan 5/kiri 5
-          Tonus otot kanan/kiri            :   menurun
b.      Refleks
-          KPR kanan/kiri                     :  -/- 
-          APR kanan/kiri                     :  -/-
-          Bebinski kanan/kiri   : +/+
c.       Sensori
-          Nyeri                                     :   +
-          Rangsang suhu                      :   +
-          Rasa raba                              :   +
20    Status Neurologi
Saraf-saraf cranial
N I (Olfaktorius)
      Klien mampu membedakan bau minyak kayu putih dan alcohol.
      N II (Optikus)
             Klien tidak dapat melihat tulisan atau objek dari jarak yang jauh.
      N III,IV,VI (Okulomotorius, Cochlearis, Abdusen)
      Mata dapat berkontraksi, pupil isokor, klien mampu menggerakkan  bola mata kesegala arah.
      N V (Trigeminus)
Fungsi sensorik : Klien mengedipkan matanya bila ada rangsangan.
Fungsi motorik :  Klien dapat menahan tarikan pulpen dengan   gigitannya.
      N VII (Fasialis)
      Klien dapat mengerutkan dahinya, tersenyum dan dapat mengangkat alis.
      N VIII (Akustikus)
      Klien dapat mendengar dan berkomunikasi dengan baik, tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
      N IX (Glosofaringeus)
      Klien dapat merasakan rasa manis, pahit, pedas.
      N X (Fagus)
      Klien tidak ada kesulitan mengunyah, klien tidak ada kesulitan menelan.
N XI (Assessoris)
Klien dapat mengangkat kedua bahu, tidak ada atropi  otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
N XII (Hipoglosus)
Gerakan lidah simetris, dapat bergerak kesegala arah, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, indra pengecapan normal.
Tanda-tanda perangsangan selaput otak
                                                       I.            Kaku kuduk                :   -
                                                    II.            Kerning sign                :   -
                                                 III.            Refleks Brudzinski     :   -
                                                 IV.            Refleks Lasegu           :   -
D.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.         Biopsi kulit
b.         Uji temple
c.         Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus
d.        Uji kultur dan sensitivitas
      E.     Pola Kegiatan Sehari-hari
1.              Nutrisi
        Yang perlu dikaji adalah bagaimana kebiasaan klien dalam hal pola makan, frekwensi maka/hari, nafsu makan, makanan pantang, makanan yang disukai banyak minuman dlm sehari   serta apakah ada perubahan Perubahan selama sakit 
2.              Eliminasi
           Pada eliminasi yang perlu dikaji adalah Kebiasaan BAK dan BAB seperti frekuensi,warna dan konsistensi baik sebelum dan sesudah sakit
3.              Aktivitas
      Pada penderita penyakit dermatitis kontak biasanya akan mengalami gangguan dalam aktifitas karena adanya rasa gatal dan apabila mengalami infeksi maka akan mengalami gangguan dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.
4.              Istirahat
klien biasanya mengeluh susah tidur dimalam hari karena gatal serta adanya nyeri. Adanya gangguan pola tidur akibat gelisah, cemas.
       F.             Pola Interaksi social
Secara umum klien yang  mengalami dermatitis kontak biasanya pola interaksi sosialnya terganggu biasanya akan merasa malu dengan  penyakitnya.
      G.          Keadaan Psikologis
Biasanya klien mengalami perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain dan biasanya klien lebih suka menyendiri dan sering cemas dengan penyakit yang  diderita. Pada keadaaan psikologis ada beberapa hal yang perlu dikaji seperti bagaimana persepsi klien terhadap penyakit yang diderita sekarang, bagaimana harapan klien terhadap keadaan kesehatannyaserta bagaimana pola interaksi dengan tenaga kesehatan & lingkungan.
     H.    Kegiatan Keagamaan
Biasanya klien beranggapan bahwa penyakit yang dideritanya merupakan cobaan untuknya dan pasti terdapat hikmah untuknya.yang perlu dikaji pada kegiatan keagamaan seperti klien menganut agama apa selama sakit klien sering berdoa.
I.       Pengelompokan data
Data Subjektif
Data Objektif
Ø  Klien mengatakan lecet pada kulit jika digaruk
Ø  Klien mengatakan nyeri pada kulit

Ø  Kulit klien tampak kering
Ø  Kulit klien tampak bersisik
Ø  Tampak adanya peradangan
Ø  Klien nampak sering menggaruk
Ø  Kulit klien tampak lecet
Ø  Klien tampak gelisah

B.     Diagnosa keperawatan
1.      Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit
2.      Nyeri dan gatal yang berhubungan dengan lesi kulit
3.      perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus
4.      Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.
5.      Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan cara – cara menangani kelainan kulit.
6.      Resiko infeksi berhubungan dengan lesi, bercak – bercak merah pada kulit
C.     Rasional
DX I
Intervensi
Rasional
Mandiri:
1.      pantau keadaan kulit pasien
2.      Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya cedera termal akibat penggunaan kompres hangat dengan suhu yang terlalu tinggi dan akibat cidera panas yang tidak terasa ( bantalan pemanasan, radiator )
3.      Anjurkan pasien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.
Kolaborasi
4.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti histamine dan salep kulit

 Mandiri
  1. Mengetahui kondisi kulit untuk dilakukan pilihan intervensi yang tepat
  2. Penderita dermatosis dapat mengalami penurunan sensitivitas terhadap panas.



  1. Banyak masalah kosmetika pada hakekatnya semua kelainan malignitas kulit dapat dikaitkan dengan kerusakan kulit kronik.
  2. Penggunaan anti histamine dapat mengurangi respon gatal serta mempercepat proses pemulihan



DX 2
Intervensi
Rasional
Mandiri:
1.      Periksa daerah yang terlibat

2.      Upaya untuk menemukan penyebab gangguan rasa nyaman


3.      Mencatat hasil – hasil observasi secara rinci dengan memakai terminology deskriptif


4.       Mengantisipasi reaksi alergi yang mungkin terjadi ; mendapatkan riwayat pemakaian obat.

5.      Kendalikan factor – factor iritan

6.      Pertahankan kelembaban kira – kira 60 % ; gunakan alat pelembab.
7.      Pertahankan lingkungan dingin
8.      Gunakan sabun ringan ( Dove ) atau sabun yang dibuat untuk kulit sensitive ( Neutrogena, Avveno ).
9.      Lepaskan kelebihan pakaian atau peralatan di tempat tidur.
10.  Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun ringan
11.  Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen, pembersih, dan pelarut.
12.  Gunakan tindakan perawatan kulit untuk mempertahankan integritas kulit dan meningkatkan kenyamanan pasien.
13.  lakukan kompres penyejuk dengan air suam – suam kuku ataukompres dingin guna meredakan rasa gatal.
14.  Atasi kekeringan ( serosis ) sebagaimana dipreskripsikan.



Kolaborasi:
15.  Oleskan lotion dan krim kulit segera setelah mandi

16.  Gunakan terapi topical seperti yang dipreskripsikan.
17.  Anjurkan pasien untuk menghindari pemakaian salep ayau lotion yang dibeli tanpa resep dokter.
18.  Jaga agar kuku selalu terpangkas.
Mandiri
  1. Pemahaman tentang luas dan karakteristik kulit meliputi bantuan dalam menyusun rencana intervensi.
  2. Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan.
  3. Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk diagnosisi dan pengobatan. Banyak kondisi kulit tampak serupa tetapi mempunyai etiologi yang berbeda. Respons inflamasi kutan mungkin mati pada pasien lansia.
  4. Ruam menyeluruh terutama dengan aeitan yang mendadak dapat mennjukkan reaksi alergi terhadap obat.
  5. Rasa gatal diperburuk oleh panas, kimia, dan fisik.
  6. Dengan kelembaban yang rendah, kulit akan kehilangan air
  7. Kesejukan mengurangi gatal
  8. Upaya ini mencakup tidak adanya larutan detegen, zat pewarna atau bahan pengeras.
  9. Meningkatkan lingkungan yang sejuk
  10. Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi kulit.
  11. Setiap substansi yang mneghilangkan air, lipid atau protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier kulit.
  12. Kulit merupakan barier yang penting yang harus dipertahankan keutuhannya agar dapat berfungsi dengan benar.
  13. Penghisapan air yang bertahap dari kasa kompres akan menyejukkan kulit dan meredakan pruritus.
  14. Kulit yang kering dapat menimbulkan daerah dermatitis dengan kemerahan, gatal, deskuamasi dan pada bentuk yang lebih berat, pembengkakan, pembentukan lepuh, keretakan dan eksudat.
Kolaborasi
  1. Hidrasi yang efektif pada stratum korneum mencegah gangguan lapisan barier pada kulit.
  2. Tindakan ini membantu meredakan gejala
  3. Masalah pasien dapat disebabkan oleh iritasi atau sensitisasi karena pengobatan sendiri.
  4. Memotongan kuku akan mengurangi kerusakan kulit karena garukan.

DX 3
Intervensi
Rasional
Mandiri :
1.      Bantu pasien melakukan gerak badan secara teratur


2.      jaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.

Kolaborasi:

  1. Cegah dan obati kulit yang kering


  1. Anjurkan kepada klien menjaga kulit selalu lembab



  1. Anjurkan klien Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur di malam hari.
  2. Anjurkan klien Mengerjakan hal – hal yang ritual dan rutin menjelang tidur.

Mandiri :
  1. Gerak badan memberikan efek yang menguntungkan untuk tidur jika dilaksanakan pada sore hari.
  2. Udara yang kering membuat kulit terasa gatal. Lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.

3.      Pruritus noeturnal mengganggu tidur yang normal.



4.      Tindakan ini mencegah kehilangan air. Kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.
5.      Kafein memiliki efek puncak 2 – 4 jam sesudah dikonsumsi.


6.      Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan terjaga menjadi keadaan tertidur. 




 DX 4
Intervensi
Rasional
Mandiri:
1.      Kaji adanya gangguan pada citra diri pasien ( menghindari kontak mata, ucapan yang merendahkan diri sendiri, ekpresi keadaan muak terhadap kondisi kulitnya ).
2.      Identifikasi stadium psikososial tahap perkembangan.


3.      Berikan kesempatan untuk pengungkapan. Dengarkan ( dengan cara yang terbuka, tidak menghakimi ) untuk mengekspresikan berduka / ansietas tentang perubahan citra tubuh.
4.      Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan pasien. Bantu pasien yang cemas dalam mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali serta mengatasi masalah.

5.      dorong sosialisasi dengan orang lain 

Mandiri:
1.      Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit atau keadaan yang tampak nyata bagi pasien. Kesan sesorang terhadap dirinya sendiri akan berpengaruh pada konsep diri
2.      Terhadap hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman pasien terhadap kondisi kulitnya

3.      Pasien membutuhkan pengalaman yang harus didengarkan dan dipahami.



4.      Tindakan ini memberikan kesempatan pada petugas kesehatan untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi. Ketakutan merupakan unsure yang merusak adaptasi pasien.
5.      Meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. 



 DX 5
Intervensi
Rasional
1.      Tentukan apakah pasien mnegetahui ( memahami dan salah mengerti ) tentang kondisi dirinya.

2.      Jaga agar pasien mendapatkan informasi yang benar ; memperbaiki kesalahan konsepsi / informasi

3.      Peragakan penerapan terapi yang diprogramkan ( kompres basah ; obat topical )
4.      Berikan nasihat kepada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi dan pengolesan krim serta lotion kulit.



5.      Dorong pasien untuk mendapatkan status nutrisi yang sehat

1.      Memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan

2.      Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang dapat mereka perbuat. Kebanyakan pasien merasakan manfaatnya.


3.      Memungkinkan pasien memperoleh kesempatan untuk menunjukkan cara yang tepat unutk melakukan terapi.
4.      Stratum korneum memerlukan air agar fleksibilitas kulit tetap terjaga. Pengolesan krim atau lotion untuk melembabkan kulit akan memcegah agar kulit tidak menjadi kering, kasar, retak, dan bersisik.
5.      Penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang. Perubahan pada kulit dapat menandakan status nutrisi yang abnormal.

 DX 6
Intervensi
Rasional
1.      Miliki indeksi kecurigaan yang tinggi terhadap suatu infeksi pada pasien yang system kekebalannya teganggu.
2.      Berikan petunjuk yagn jelas dan rinci kepada pasien mengenai program terapi


3.      Laksanakan pemakaian kompres basah seperti yang diprogramkan untuk mengurangi intensitas inflamasi

1.      Setiap keadaan yang mneggangu status imun akan memperbesar resiko terjadinya infeksi kulit.

2.      Pendidikan pasien yang efektif bergantung pada ketrampilan – ketrampilan interpersonal professional kesehatan dan pada pemberian instruksi yang jelas yang diperkuat dengan instruksi tertulis.
3.      Kompres basah akan menghasilkan pendinginan lewat pengisatan yang menimbulkan vasokontriksi pembuluh drah kulit dan dengan demikian mengurangi eritema serta produksi serum. 


D.    Evaluasi
Ø  Diagnosa I
1.      Tidak adanya maserasi.
2.      Tidak ada tanda – tanda cedara termal.
3.      Tidak ada infeksi.
4.      Memberikan obat topikal yang diprogramkan
Ø  Diangnosa II
1.      Mencapai peredaran gangguan rasa.
2.      Mengutarakan dengan kata – kata bahwa gatal telah reda.
3.      Memeperlihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.
4.      Mematuhi terapi yang diprogramkan.
5.      Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
6.      Menunjukan kulit utuh; kulit menunjukan kemajuan dalam penampilan yang sehat.
Ø  Diagnosa III
1.      Mencapai tidur yang nyenyak.
2.      Melaporkan peredaran rasa gatal.
3.      Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
4.      Menghindari konsumsi kafein pada sore hari dan menjelang tidur malam hari.
5.      Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
Ø  Diagnosa IV
1.      Mengalami Mengembangkan peningkatan kemampuan untuk menerima diri sendiri.
2.      Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan mandiri.
3.      Melaporkan perasaan dalam mengendalikan situasi.
4.      Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri
5.      Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang sehat.
6.      Tampak tidak begitu memperhatikan kondisi.
7.      Menggunakan tekhnik menyembunyikan kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan.
Ø  Diagnosa V
1.      pola tidur / istirahat yang memuaskan
2.      Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.
3.      Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan cara – cara menangani kelainan kulit. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
4.      Mengikuti terapi seperti yang diprogramkan dan dapat mengungkapkan rasional tindakan yang dilakukan.
5.      Menjalankan mandi, pencucian, barutan basah sesuai yang diprogramkan.
6.      Gunakan obat tropikal dengan tepat.
7.      Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.
Ø  Diagnosa VI
1.      Tetap bebas dari infeksi.
2.      Mengungkapkan tindakan perawatan kulit yang meningkatkan kebersihan dan mencegah kerusakan.
3.      Mengidentifikasikan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan.
4.      Mengidentifikasi efek merugikan dari obat yang harus dilaporkan ke petugas perawatan kesehatan.
5.      Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulit ( misalnya mandi, dan penggantian balut ).

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth.2001.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Harahap, Marwali, dkk. 2000. Pedoman Pengobatan Penyakit Kulit. Bandung: Alumni
-----------------------------.2006. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 2. Jakarta: Media Aesculapius.
NANDA.2006.Pedoman Diagnosa Keperawatan NANDA 2005 – 2006. Primamedika.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar